Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kehidupan

Hai 2016

Sebuah tulisan di awal tahun 2016. Saat ini nampaknya semua orang sedang sibuk. Ada yang sibuk bikin “bestnine2015” di instagram, ada yang sibuk mengabadikan momen-momen terakhir di penghujung 2015, ada yang sibuk mengenang perjalanan hidup selama tahun 2015, ada yang sibuk bikin resolusi buat 2016, dll. Aku? Ya, aku di sini saja, masih bergelut dengan pikiranku. Hari ini tak sengaja aku membuka arsip-arsip lama. Ku lihat arsip piagam penghargaanku. Di saat orang-orang melaminating bahkan memfigura piagam yang mereka dapat, aku hanya mengumpulkannya di sebuah map dan menaruhnya di suatu folder di sudut kamar. Saat ku buka, map itu dalam kondisi agak berdebu. Di dalamnya terlihat tumpukan piagam yang cukup tebal. Baru sadar ternyata banyak juga piagam yang kupunya. Ada yang ujung-ujungnya mulai berwarna kecoklatan, ada yang kondisi kertasnya sudah tidak mulus, bahkan ada yang hampir robek. Orang-orang pasti mengira aku bukanlah orang yang bersyukur. Meraih cukup ...

Magnolia

Aku adalah manusia, penghuni planet yang bernama Bumi, yang sejauh ini masih menjadi satu-satunya planet berpenghuni. Aku hidup bersama manusia lainnya. Ada banyak manusia di sini yang notabene terbagi menjadi dua yaitu wanita dan pria, meskipun kini batasan itu sudah mulai kabur sejak munculnya istilah "kesetaraan gender" dan "LGBT" yang aku sendiri masih bingung itu apa. Aku sendiri masuk ke dalam kategori wanita dan aku bersyukur akan hal itu. Aku telah hidup di Bumi ini selama 21 tahun. Selama itu aku banyak melihat. Aku sangat bersyukur pada Penciptaku karena telah memberikanku mata untuk melihat meskipun aku malah merusaknya dan kini tidak bisa melihat dengan jelas. Dimulai dari mata yang melihat, aku menjadi tahu kalau aku tidak hidup sendiri, kalau aku ternyata berada di atas tanah yang ternyata beratapkan langit, kalau aku ternyata adalah manusia yang punya tangan dan kaki. Dengan melihat (entah kenapa) aku merasa tenang dan aman. Dari situ aku banyak bel...

Satu Bumi, Banyak Dunia

Aku hidup di bumi yang cuman satu. Tapi akhirnya aku mulai menyadari bahwa hidup ini tidak sesederhana bumi yang cuman satu ini. Aku memandang kehidupanku dengan sudut pandangku sendiri, dengan perspektif diriku sendiri. Begitupun dengan orang lain yang memandang hidupnya dengan sudut pandang mereka sendiri, perspektif mereka sendiri. Tiap manusia memiliki perspektifnya masing-masing mengenai kehidupan ini. Ada yang memandang dunia ini bagai pelangi. Ada yang memandang dunia ini bagai sampah. Ada yang memandang hidup di dunia ini tak ada gunanya. Ada yang memandang hidup di dunia ini sebuah anugrah. Dunia seorang pengemis berbeda dengan dunia seorang pegawai negeri sipil. Dunia seorang insinyur perminyakan berbeda dengan dunia seorang ibu penjual nasi kuning. Dunia seorang pecandu narkoba berbeda dengan dunia seorang mahasiswa idealis. Akhirnya bumi yang cuman satu ini sesak oleh banyaknya dunia, karena tiap orang punya dunianya masing-masing. Tapi bumi ini mem...