Postingan

Magnolia

Aku adalah manusia, penghuni planet yang bernama Bumi, yang sejauh ini masih menjadi satu-satunya planet berpenghuni. Aku hidup bersama manusia lainnya. Ada banyak manusia di sini yang notabene terbagi menjadi dua yaitu wanita dan pria, meskipun kini batasan itu sudah mulai kabur sejak munculnya istilah "kesetaraan gender" dan "LGBT" yang aku sendiri masih bingung itu apa. Aku sendiri masuk ke dalam kategori wanita dan aku bersyukur akan hal itu. Aku telah hidup di Bumi ini selama 21 tahun. Selama itu aku banyak melihat. Aku sangat bersyukur pada Penciptaku karena telah memberikanku mata untuk melihat meskipun aku malah merusaknya dan kini tidak bisa melihat dengan jelas. Dimulai dari mata yang melihat, aku menjadi tahu kalau aku tidak hidup sendiri, kalau aku ternyata berada di atas tanah yang ternyata beratapkan langit, kalau aku ternyata adalah manusia yang punya tangan dan kaki. Dengan melihat (entah kenapa) aku merasa tenang dan aman. Dari situ aku banyak bel...

Satu Bumi, Banyak Dunia

Aku hidup di bumi yang cuman satu. Tapi akhirnya aku mulai menyadari bahwa hidup ini tidak sesederhana bumi yang cuman satu ini. Aku memandang kehidupanku dengan sudut pandangku sendiri, dengan perspektif diriku sendiri. Begitupun dengan orang lain yang memandang hidupnya dengan sudut pandang mereka sendiri, perspektif mereka sendiri. Tiap manusia memiliki perspektifnya masing-masing mengenai kehidupan ini. Ada yang memandang dunia ini bagai pelangi. Ada yang memandang dunia ini bagai sampah. Ada yang memandang hidup di dunia ini tak ada gunanya. Ada yang memandang hidup di dunia ini sebuah anugrah. Dunia seorang pengemis berbeda dengan dunia seorang pegawai negeri sipil. Dunia seorang insinyur perminyakan berbeda dengan dunia seorang ibu penjual nasi kuning. Dunia seorang pecandu narkoba berbeda dengan dunia seorang mahasiswa idealis. Akhirnya bumi yang cuman satu ini sesak oleh banyaknya dunia, karena tiap orang punya dunianya masing-masing. Tapi bumi ini mem...

Mahasiswa dan Kemahasiswaan

                 Bukan hal yang mudah menjadi mahasiswa. Bagi siswa SMA, ketidakmudahan itu nampak jelas. Ya, untuk menambahkan kata “maha” di depan kata “siswa” butuh perjuangan yang secara otomatis juga butuh pengorbanan. Belajar mati-matian ditambah merogoh kocek yang cukup dalam untuk membayar bimbingan belajar maupun membayar ujian tes masuk, semuanya dilakukan untuk mengupgrade diri menjadi mahasiswa, diterima di perguruan tinggi impian, dan kemudian mendapatkan pekerjaan yang diinginkan.                 Perjuangan belum usai. Ketidakmudahan demi ketidakmudahan terus menghadang. Setelah berhasil menyandang status mahasiswa, muncul identitas baru yang jauh berbeda dibanding saat masih menjadi siswa saja, tanpa maha. “Mahasiswa itu agent of change!”, “Mahasiswa itu calon pemimpin masa depan!”, “Mahasiswa itu pembawa nilai-nilai p...

Diary Ramadhan #1

Minggu, 29 Juni 2014 / Ahad, 1 Ramadhan 1435 H sayang banget, saya ga bisa ngerasain nikmatnya tarawih di hari pertama Ramadhan. ga bisa juga ngerasain nikmatnya shaum di hari pertama Ramadhan. yaa taulah masalah cewe. tapi dampaknya euforia Ramadhan ini kurang kerasa di hati saya. apakah ada yang salah dengan hati ini? yang biasanya deg-degan kalau udah deket Ramadhan, ko kali ini biasa aja ya? mungkinkah gara2 haid? tapi masa sih? satu hal yang pasti, saya mesti banget mengubah diri. inget banget dulu saya teratur banget hidupnya. segala sesuatu nya sistematis, terencana dengan baik. tiap hari bikin list to do biar jelas hari itu mau ngapain aja. lah sekarang? banyak kerjaan di kampus tapi malah diem di rumah, main stepmania. schedule book saya jadi jarang diisi. kalo di kampus sengikutnya arus aja. ketemu temen terus ngajak main, malah ikutan main padahal banyak kerjaan di kampus. astaghfirullah... ya Allah... saya ga mau kayak gini terus. kenapa saya jadi kayak gini ya? saya ga...

Mahasiswa, Masihkah Mampu Menjadi Harapan Bagi Masyarakat?

Mahasiswa, Masihkah Mampu Menjadi Harapan bagi Masyarakat? Apa yang pertama kali Anda bayangkan ketika mendengar kata “mahasiswa”? Anak muda dengan kaca mata tebal membawa setumpuk buku ke mana pun dia pergi? Atau anak muda dengan rambut gondrong, celana sobek, mengeluh mengenai sulitnya kuliah dan menyalahkan pemerintah atas segala problematika yang terjadi di negeri ini? Atau mungkin Anda membayangkan anak muda dengan jaket almamater terpasang di tubuhnya sambil meninjukan kepalan tangannya ke udara meneriakan perubahan? Mari kita bicara tentang mahasiswa Indonesia. Sejarah mencatat bahwa mahasiswa memiliki peranan penting dalam proses reformasi Indonesia. Sejak saat itu mahasiswa seakan-akan dijadikan dewa oleh masyarakat. Masyarakat menaruh harapan besar pada setiap mahasiswa Indonesia. Secara teori, mahasiswa memiliki identitas yang membedakannya dengan masyarakat lain. Identitas itu terdiri dari potensi, posisi, dan peran. Potensi Mahasiswa Mahasiswa memiliki poten...

What I Want to Say VS What I Said

Gambar

Pembinaan Pekanan Majelis Ta’lim Salman #1 "Karakteristik Para Sahabat"

Pembinaan Pekanan Majelis Ta’lim Salman #1   Sabtu, 8 Februari 2014 @ GSG Salman Materi : Karakteristik Para Sahabat Rasul seringkali memuji sahabat-sahabatnya, yang secara karakter tidak ada yang sama Karakteristik yang sempurna salah satunya ada pada diri Rasulullah (uswatun hasanah) Allah menentukan dan memilihkan sahabat-sahabat yang berbeda karakternya untuk senantiasa menemani Rasul dalam tiap perjuangannya Perumpamaannya : jika Rasul adalah bulan, maka bintangnya adalah para sahabatnya Di antara beberapa sahabat Rasul, ada 4 sahabat yg kita tahu menjadi khalifah yaitu Abu Bakar AshShiddiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib Ke-4 sahabat tersebut sangatlah berbeda karakternya, masing-masing mewakili satu kepribadian (sistem ‘koleris, melankolis, sanguinis, plegmatis’) Abu Bakar : plegmatis --> tenang, tidak ambil pusing, damai (ingat : peristiwa isra miraj) Umar : koleris --> tegas, berani, seringkali Allah lebih me...